Minggu, 20 Maret 2011

Meretas Pribadi Bermoralitas Menuju Masyarakat Berkualitas


 Meretas Pribadi Bermoralitas Menuju Masyarakat Berkualitas
(Karya dipresentasikan dalam Orasi Ilmiah Propinsi Jawa Timur) 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur alhamdulillah dari hati yang dalam atas kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat serta hidayah kepada hamba-NYA,sehingga dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul Membangun jati diri masyarakat pembelajar menuju moralitas bangsa
            Karya Tulis ilmiah ini disusun dengan maksud sebagai salah satu persyaratan  untuk mengikuti  orasi  ilmiah yang dilaksakan di PW NU Jatim pada tanggal 16-01-2011
            Dengan terselesainya  karya tulis ilmiah ini tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada :




Ponorogo,04-01-2011


Wahyu Asiati

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
            Indonesia yang hampir 200 juta umat islam, bila saja dilengkapi dengan generari muda serta masyarakat yang jujur, dan bermoral tentunya akan menjadi negara yang luar biasa.  Karena jatuh bangun, berkembang tidaknya suatu bangsa tergantung pada masyarakatnya. Jika masing masing pada diri masyarakat tersinggah harapan harapan mulia hingga inipun dapat dengan mudahnya berdiri sebagai bangsa yang kokok, damai, dan tentram. Namun sebaliknya jangan berharap bangsa ini akan tentram jika masyarakatanya tidak lagi peduli dengan keadaan disekelilingnya, bahkan untuk mempertahankan yang ada saja amatlah sulit,justru kehancuran,kejahatan,kemaksiatn akan semakin meningkat,dan tak lain itu semua disebabkan karena semakin rendahnya sumberdaya manusia,dan rusaknya moral masyarakatnya.Kalau saja kita lihat keadaan bangsa kita maka janganlah pesimis dan putusasa,memang keadaan masyarakat negeri ini sangatlah memprihatinkan,terutama rendahnya moralitas padadiri pelajardan pemuda sebagai penentumasa depan bangsa ini.Hal tersebut terbukti dengan semakin hilangnya sopan santun mereka sebagai generasi muda,bejatnya akhlak mereka,semakin meningkatnya kemaksiatan baik dikalangan pelajar,pemuda,bahkan hingga orang lanjut usiapun tanpa malu senantiasa berbuat dosa.Mereka lupa akan kewajibannya.Bahkan terhadap yang menciptakan diri mereka sendiripun mereka lupa. Naudzubillahimindalik...
“Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,kemudian Allah kembalikan mereka menjadi yang serendah-rendahnya,kecuali mereka yangberiman dan beramal shaleh”.
(Q.S. At-Tiin :4-5 )
            Oleh karena itu sebagai seorang kader umat dan kader bangsa sudah seharusnya kita melakukan sebuah perubahan dalam mengatasinhal tersebut diatas.Seorang pelajar,pemuda,dan pemudi kita merupakan amunisi masadepan,buah cita-cita menuju kebangkitan umat,keluardengannya dariketerbelakangan dan keterpurukan menuju kemajuan dan kecemerlangan.Ketika kita menjalankan kewajiban bersama mereka dalam kebenaran atas iman yang murni,jiwa yang baik,akhlak yang suci dan hati yang tulus maka dapat membangun perasaan yanghidup. Bersama para pemuda umat menuju kemuliaan, bersungguh-sungguh dalam mengembalikan kemuliaan,melindungi agama, memanfaatkan sumber daya alam, menguasai energi danotensinya, menghilangkan berbagai halangan dan rintangan yang menghalanginya tanpa ada kata menyerah.
            Tapi perlu kita ketahui bahwaapakah Moralitasdalam diri seseorang atau masyarakat pembelajar itu lahir dengan begitu saja? Memana kalau burung dilahirkan dengan bersayap.Tapi untuk dapat terbang lincah burung juga sangat perlu berlatih terlebih dahulu.Begitu pula dengan manusia,memang manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah/suci,namun untuk menjadikan manusia menjadi orang berkwalitas maka juga sangatlah perlu yang dinamakn pelatihan,berlatih bagaimana mengendalikan emosi,berlatih bagaimana dapat berjuang menujukeberhasilan,dan berlatih bagaimana menjadimasyarakat pembelajar menuju moralitas bangsa,hingga mereka terbiasa dengan segala hal-hal yang baik,sebab “KITA BISA KARENA TERBIASA”.
            Maka dari itu saya membuat karya tulis ilmiah ini yang mana didalamnya membahas tentang peran moral dan etika masyarakat poembelajar diEra Globalisasi,Permasalahan-permasalahannya,pembangunan jati diri bangsa,dengan tujuan agardapat memberikan gambaran serta motivasi bagi masyarakat khususnya bagi pelajar dan pemuda dalam menumbuhkan akhlak serta moral yang mulia.
            Tak ada gading yang tak retak,begitu pula dengan karya ilmiah ini  masih jauh dari sempurna,oleh karenanya demi kesempurnaan dimasa mendatang ktritik dan saran sangat kami nantikan.

B.RUMUSAN MASALAH


BAB II
PEMBAHASAN

Peran Moralitas dan Etika Pelajar dan Pemuda dalam Membangun                   Masyarakat Islam di dalam Era Globalisasi

“ Sesungguhnya di tangan dan pundak generasi mudalah baik buruk suatu umat “.
            Itu berarti bahwa pemuda dan pelajar sebagai generasi penerus suatu basngsa memiliki peran dan pengaruh yang begitu besar terhadap perkembangan suatu bangsa dan umat terutama terutama yang mereka cerminkan dalam kehidupan sehari – hari.
            Jika berbicara mengenai etika dan moralitas pelajar dan pemuda memang memiliki kedinamisan dalam berbagai aspek, baik menyangkut pendidikan , pergaulan, ataaupun sosialisasi,dll.
 Etika dan Moral “ dalam pengertian umum adalah kesopanan / adab , adat istiadat , adab sopan santun ,dan tata krama. Jadi, dalam memahami etika dan moral dapat digolongkan tiga hal yang mendasar dalam hubungan tata hubungan pertemanan , persahabatan, dan pergaulan, yaitu :
            Oleh karena itu, para pemuda-pemuda masa depan sangatlah perlu untuk digembleng guna melanjutkan perjuangan serta estafet kepemimpinan generasi-generasi sebelumnya, hingga mereka dapat melakukan perubahan serta dapat menjadi pemimpin yang lebih baikdari yang sudah baik.
            Namun permasalahan yang begitu mengakar pada kebanyakan pelajar dan pemuda ialah arus globalisasi yang semakin deras. Informasi dan komunikasi menjadi sedemikian cepat, bahkan kini berbagai informasipun semakin cepat, instan, mudah, dan murah dijangkau, yang pada titik kritisnya ialah adanya informasi-informasi yang terakses cepat tanpa adanya pendamping.
Selain sisi-sisi positif seperti dengan memberikan peluang besar bagi seluruh masyarakatkhususnya bagi pelajar dan pemuda untuk berekspresi dan berapresiasi dalam berbagai fenomena yang terjadi di belahan dunia baik di bidang sosial, politik, atau budaya, wajah globalisasi juga memberikan dampak negatif seperti halnya banyakkemiskinan, semakin meningkatnya kerusakan lingkungan, hilangnya perdamaian, dan yang paling menghawatirkan ialah semakin rusaknya moralitas generasi muda.
Selain itu globalisasi juga menjadi penyebab ilfitrasi budaya tidak terbendung, budaya-budaya semakin mudah tertukar dan mempengaruhi satu dengan yang lainnya, termasuk budaya barat yang bebas memasuki budaya ketimuran yang lebih cenderung terpeliharanya oleh nilai-nilai agama.
Semua itu sebenarnya tidak menjadi masalah jika semua masyarakat khususnya para poelajar dan pemudamemiliki ketahanan yang cukup, antara lain dalam hal pendidikan pelajar kita yang memiliki pondasi yang kuat tentang agama, moral, dan budaya kita sendiri sehingga budaya-budaya baru yang dapat merusak etika dan moral para generasi muda tidakmudah masuk dan mempengaruhi gaya hidup para pelajar dan pemuda kita.
Era globalisasi pun kadangkala memiliki daya tarik yang hebat bagi sebagian orang kgususnya para pelajar dan pemuda yang bergulat menghadapi dunia yang senantiasa mengalami perubahan dan situasi dislokasi kultural yang mana menyebabkan sebagian dari mereka mengalami keterasingan, lebih-lebih krisis global yang dapat membawa manusia pada titik kritis. Maka upaya untuk menanggulanginya pun harus dimulai dengan kepekaan dan empati. Di sinilah agama harus menyediakan orientasi pencerahan bagi manusia di tengah zaman yang sedang berubah.keadaan semacam ini menjadi tantangan bagi agama-agama (king,1990). Dalam konteks islam, globalisasi sesungguhnya sudah dikabarkan dalam Al-Qur’an yaitu : “Sesungguhnya telah aku (Allah) ciptakan kalian (manusia) sebagai laki-laki dan perempuan, dan aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal (QS.Hujurat : 13).
Kitab suci Al-Qur’an telah mengisyeratkan bahwasanya sangat perlu hubungan dalam level global diantara bangsa-n\bangsa dan suku-suku yang ada di muka bumi ini, sehingga hubungan antar bangsa merupakan sebuah keniscayaan dari kitab suci. Oleh karena itu, nilai-nilai islam yang diisyaratkan secara jelas dalam Al-Qur’an itu harus di transformasikan dalam konteks globalisasi yang terjadi pada saat ini agar menjadi pegangan hidup bagi setiap muslim khususnya para pelajardan pemuda dalam membangun relasi-relasi sosial yang dikembangkannya.
Di tengah fenomena globalisasi yang melanda dunia khususnya Indonesia pada saat ini, nilai-nilai islam sangatlah penting untuk ditransformasikan sebagaibasis nilai di kalangan pelajar dan pemuda untuk bersikap dan bertingkah laku dalam membangun etika dan moralitas masyarakat islami dalam relasi-relasi sosial di tingkat global.
Akan tetapi padahakikatnya para pelajar dan pemuda kita rupanya belum siap dan belum begitu kuat membentengi dirinya akan munculnya arus globalisasi. Kenyataan yang terlihat bahwatindakan-tindakan yang memperkuat kekuatan jiwa, mental dan rohani mereka guna benteng moral amatlah rapuh. Ini semua dapat kita lihat dari presentasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mata pelajaran agama di sekolah-sekolah.
Seorang pakar pendidikan Arif Rahman Hakim berpendapat bahwa pola serta kurikulum pendidikan di Indonesia tidak memadai untuk mengarahkan moral pelajar. Misalkan saja tidak ada titik temu antara pelajaran agama dengan kenyataan di lapangan. Bahkan rata-rata di setiap sekolah hanya mengalokasikan dua jam pelajaran tiap pekan untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Belum lagi kenyataan yang ada bahwa pelajaran agama yang diberikan hanyalah sebatas teori yang kurang diaplikasikan. Padahal pendidikan yang baikl sejatinya memiliki pengaruh yang besaruntuk terbentuknya moralitasyang baik yang kemudian tercermin dalam aktivitassehari-hari. Inilah mengapa etika serta moralitas pelajardan pemuda memiliki peran yang penting dalam membangun masyarakat islam di zaman Era Globalisasi seperti sekarang ini.

Membangun Jati Diri Masyarakat Pembelajar
Membangun jati diri masyarakat pembelajar dalam suatu bangsa merupakan sebuah tantangan kreatif bagi seluruh masyarakat terutama para pelajar dan pemuda, sebab di zaman yang semakin canggih ini semua masyarakat khususnya para pelajar dan pemuda dituntut untuk selalu berperan aktif dan kreatif dalam memanfaatkan seluruh khasanah kekayaan budayanya dalam menghadapi tantangan akan keadaan zaman yang selalu mengalami perubahan.
Pada saat lintasan reformasi mengikuti jalur yang tidak jelas dan lamban serta menghadapi tantangan-tantangan multidimensional beberapa waktu terakhir ini mulai mewacanakan tentang “ kembali ke UUD 45 “ dan jati diri bangsa “. Bahkan dalam Musyawarah Nasional dan Konbes NU di Surabaya padaAgustus 2006 lalu, difatwakan bahwa NKRI adalah “Final”. Entah apakah pernyataan itu mrendorong dan membantu upaya masyarakat merajut kembali Indonesia yang tampak kedodoran, sempoyongan, dan nyaris tercabik-cabik dalam beragam kesenjangan serta berbagai problem-problem yang tampak tak berujung dalam menyongsong zaman yang penuh persaingan ?
Saya berpendapat bahwa jati diri adalah proses pencarian yang kemudian menemukan dan kemudian menjadikannya identitas yang nantinya digunakan untuk upaya mempertahankan diri sebagai suatu individu dalam sebuah persaingan penakhlukan budaya-budaya di dunia.
            Dalam hal ini masyarakat terutama pelajar dan pemuda yang mungkin lebih berambisius akan sesuatu hal yang tidak saja harus dengan penuh keberanian mengambil khasanah budaya dan ilmu pengetahuan Universal yang tersedia, namun juga harus mampu merumuskan solusi akan kemungkinan permasalahan-permasalahanyang timbul sebagai upaya agartetap lestari dalam pencaturan sejarah.
            Memperhatikan sejarah kelompok suku yang hidup di sebuah kawasan disebut nusantara ini. Umar Kayam mengibaratkan orang Indonesia sebagai manusia dengan tulang animismne, berbalut daging Hindu, berjubah Arab, berparfum Eropa. Harus segera dikatakan bahwa kawasan ini telah lama merupakan kawasan sampah-sampah peradaban dunia. Artinya, baik Hindu, Islam dan Kristen yang sebenarnya. Seperti juga dalam komunikasi gagasan-gagasan aal mengalami proses “ penguragan dan penambahan “ baik disengaja ataupun tidak melalui adaptasi, penerjemah, dan penafsiran.
            Proses globalisasi bersama gagasan-gagasannya yang tidak seimbang saat ini telah menyebabkan masyarakat berada dalam keadaan sulit untuk menemukan jati dirinya, sebab mau tidak mau mereka harus mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal tentang informasi-informasi dan pengetahuan lain yang begitu cepat berhamburan.
            Dalam kaitan inilah, pendidikan merupakan sebuah upaya sadar untuk membangun kapasitas kreatif masyarakat khususnya bagi pelajar dan pemuda.

Permasalahan-permasalahan dalam Mewujudkan Masyarakat
Pembelajar
            Dalam membangun masyarakat menuju moralitas bangsa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebab begitu banyak permasalahan, serta tantangan-tantangan yang harus dilewati. Tidak menutup kemungkinan permasalahan yang ditimbulkan oleh anak-anak remaja. Karena pada masa-masa remaja inilah seseorang akan mulai menemukan jati darinya, bahkan kemungkinan mereka melakukuan apa saja untuk menemukan jati dirinyapun dapat terjadi.
            Apalagi remaja sekarang dihadapkan pada problem-problem besar kehidupan dari akibat pertemanan, persahabatan, dan pergaulannya bahkan cenderungnya mengarahkan mereka pada kemudahan-kemudahan dengan tawaran pemusahan hasrat dan keinginan nafsu.
            Sebagai seorang remaja mereka harus mengetahui benarbahwa mereka mereka sekarang dihadapkan pada era post struktualist dan post moderis. Mereka dipaksa secara efektif untuk mejeng dan nongkriong-nongkrong di mall, cafe-cafe, pergi melonceng rame-rame, bolos sekolah, tidak mau tau persoalan orang tua, tidak suka baca buku, dll. Bahkan dunia pendidikan di Indonesia masih begitu kelabu, dulu hingga sekarang siswa masih sering tawuran , tak jarang juga terdengar kebocoran-kebocaran soal-soal ujian Nasional, kasus-kasus video amoralpun sering terjadi. Akibatnya generasi muda tanpa malu punya rasa malu, hilang sopan santun, lebih mementingkan kepentingan sesaat.
            Padahal mereka adalah aset bangsa yang potensial dan mahal harganya, perjalanan hidup merekapun masih panjang dan tantangan-tantangan hidup makin kompleks, moral rusak, akhlak bejat, harga diri ternodai, kesucian sudah tak terdistorsi, perzinaan, minum-minuman keras, narkoba, judi, pembunuhan dan masih banyak hal-hal buruk lainnya yang mungkin sudah menjadi hal-hal biasa dalam dalam kehidupan di dunia ini. Itu semua terjadi karena memang begitu banyaknya faktor-faktor yang menjadikan semakin kompleknya persoalan kemaksiatan di kalangan masyarakat khususnya di kalangan pelajar dan pemuda. Hingga mereka salah memilih jalan dalam menemukan jati dirinya yang akhirnya mengakibatkan rusaknya moral mereka selaku calon generasi muda penerus bangsa.


Faktor-faktor tersebut adalah :
“berbicara tentang pergaulan, seorang remaja atau pelajar akan merasa Wah, jika dirinya sudah dikatakan sebagai anak GAUL ; lalu sebenarnya apa sih GAUL itu ? Apakah seseorang akan dikatakan GAUL jika mereka sudah berpakaian maching, yukensi, bahkan sampai menampakkan lekak lekuk tubuhnya ? atau seseorang yang punya banyak pacar? Mungkin karena mereka salah mengartikan atau memahami arti gaul itu sendiri sehingga merekapun salah memilih teman bergaul dan salah untuk menjadi orang gaul. Menurut saya, apabial dipahami sebenarnya GAUL itu adalah Gabungan Anak Unggul , yang berarti bahwa seseorangitu dapat dikatakan gaul jika ia memiliki prestasi, banyak pengetahuan, pengalaman, ilmu dan dapat mengamalkannya, dengan demikian maka seseorang akan memiliki manfaat bagi orang lain dan dikatakan GAUL, lalu sudahkah andamenjadi seseorang yang GAUL tanpa salah pergaulan ?

Orang tua adalah seseorang yang memiliki peran dan pengaruh yang besar terhadap perkembangan fisik dan mental seorang anak, sebab orangtualah sarana pendidikan yang pertama kali diterima oleh seorang anak, dan orang tua pulalah yang memiliki waktu lebih banyak untuk mendidik atau mengawasi anaknya, terutama bagi mereka yang mulai menginjak masaremaja, sebab mulai inilah seorang anak akan lebih berani mengambil keputusan dan bertindak sesuai kesenangan hati mereka, jadi jika perhatian orang tua sangat minim atau lebih-lebih lalai dalam mengawasi anaknya maka akan mengakibatkan dampak yanga besar bagi perkembangan akhlak atau moral anak tersebut.
“tidak ada bayi yang lahor melainkan dia dilahirkan di atas fitrah (tauhid, islam ) dan kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. H.R .Bukhori Muslim

Iman dan taqwa ialah sesuatu yang dapat mengendalikan diri seseorang dikala ingin melakukan kemaksiatan. Sebab, jika sudah tumbuh iman dan taqwa padadiri seseorang maka orang tersebut selalu berfikir terlebih dahulu akan manfaat dan mudharat tentang sesuatu yang akan dilakukun sebelum bertindak, karena ia tahu bahwa segala yang akan dilakukannya diketahui Allah SWT. Dan mereka akan dimintai pertanggung jawaban. Namun, sebaliknya jika iman dan taqwa sudah tidak tumbuh lagi padadiri seseorang maka orang tersebut akan melakukun hal tanpa berfikir terlebih dahulu melainkan hanya untuk memenuhi nafsunya saja yang mendatangkan kesenangan sesaat. Di sinilah pentingnya keimanan agar ketika kemampuan akal terbatasi oleh “dinding” batas kemampuan akal dan ia bisa kembali kepada sang pencipta.

“Kecil dimanja_manja,muda foya_foya,Tua kaya raya,Mati masuk surga” seperti itulah suatu perjalanan hidup yangdiinginkan oleh kebanyakan orang,khususnya oleh seorang pelajar atau remaja,namun jika tela’ah bahwasannya kata-kata itu hanya indah disyair namun tidak logis jika dinalar oleh fikir.Banyak generasi muda yang membuang-buang waktu mereka untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Pernah disampaikan oleh imam”Adz Dzahabi“Bahwasannya Hati ini Lemah,sedang subhat-subhat Ganas Merajalela” maksudnya ialah dimana kondisi kebodohan merajalela,ulama’ telah langka,metodologi keilmuan menjadi tak karuan,kemaksiatan semakin tak terkendalikan,maka tentunya hati kita akan semakin menipis dan lemah.Disamping itu subhatpun semakin kuat dan menguasai jiwa kita.
     Dan ternyata memang begitu banyak faktor-faktor yang merusak moralitas generasi bangsa, lalu bagaimana dan mau dibawa kemana masa depan bangsa ini jika generasi mudanya sudah tidak bermoral lagi ??? Tentunya bangsa ini akan hancur layaknya sebuah cangkir yang jatuh dikeramik,pecah menjadi berkeping-keping \,hingga tidak dapat lagi dimanfaatkan,bahkan untuk mengembalikan seperti semula saja amatlah sulit.Kemudian disamping itu semua orang saling menyalahkan satu dengan yanglainnya.Lalu siapa yang sebenarnya pantas untuk disalahkan?? Sungguh semua utu tak akan menyelesaikan masalkah,malah akan menimbulkasn masalah yangbaru.Akan tetapi yanglebih pentingialah kita koreksi diri kita sendiri.Sudahkah kita menjadi generasi penerus bangsa yangbermoral? Sudahkah kita melakukan perubahab-berubahan menuju kearah yang lebih baik?

D.Membangkitkan Moralitas Bangsa
“Tinggalkan uang,tinggalkan keterkenalan,tinggalkan ilmu pengetahuan,dan tinggalkan bumi itu sendiri beserta segenap muatannya,itu lebih baik dari pada kita melakukan tindakan tak  bermoral.”                           (Thomas Jefferson)
            Belakangan ini begitu banyak kasus kejahatan yang diekspos dari media masa baik cwtak maupun elektronik setiap hari mulai dari kasus korupsi,penipuan,pembalakan hutan,pemalsuan obat,dan lain sebagainya.Bahkan hampir disemua stasiun televisi memiliki program khusus penayangan tindakan kejahatan yang kini memiliki ranting yang cukup tinggi.Karena itu berita dan informasi kriminal seolah menjadi menu harian kita.Mungkin kita merasa bahwa kehidupan sehari-hari dilingkupi oleh hal-hal keji dan tidak berperikemanusiaan.
            Bagaimana sebenarnya potret moralitas bangsa Indonesia? Ada beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kualitas moral kehidupan suatu bangsa. Menurut Thomas Lickona (1992) terdapat sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa yaitu : Meningkatnya kekerasan dikalangan remaja,ketidakjujuran yang membudaya,semakin tingginya rasa tidak hormat pada orang tua,guru, dan figur pemimpin, pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan, meningkatnya kecurigaan dan kebencian, penggunaan bahasa yang memburuk,penurunan etos kerja,menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara,meningginya perilaku merusak diri dan semakin kaburnya pedoman moral.
            Apa yang disampaikan lickona tantang ciri penurunan moral yang berpotensi menghancurkan bangsa tergambar melalui wajah media kita.Lalu bagaimana agar bangsa ini mampu bertahan bahkan menjadi maju dan berkembang?
            Ada tiga musuh bangsa yang harus berpotensi menghancurkan bangsa yaitu kemiskinan,kebodohan,dan kebobrokan moral.Ketiga musuh tersebut harus secara simultan dan serius diperangi. Kemiskinan dapat diberantas dengan pembangunan ekonomi agar kesejahteraan dicapai oleh rakyat secara luas. Kekayaan alam Indonesia sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan agar tak ada lagi rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Kebodohan diperangi dengan program pendidikan bagi semua kalangan baik secara formal maupun informal.
            Kebobrokan moral harus diberantas agar individu-individu terhindar dari perilaku yang merugikan diri,orang lain,dan masyarakat. Moralitas berkaitan dengan aktivitas manusia yang dipandang baik  atau tindakan yang benar,adil dan wajar. Karena itu masyarakat atau bangsa yangbermoral akan senantiasa menjunjung tinggi dan mengutamakan nilai-nilai tujuh budi utama yaitu: tanggung jawab, visioner,diplisin, kerjasama, dan peduli lain-lain.
            Pemerintah telah membuat berbagai program dan rencana untuk membuat bangsa ini pulih dari krisis. Berbagai strategi dan pendekatan untuk pembangunan ekonomi dan peningkatan  kesejahteraan rakyat banyak  dilakukan. Hal tersebut bahkan seolah menjadi agenda utama. Demikian juga upaya untuk meningkatkan taraf pendidikan banyak program yang disusun. Wajib belajar adalah salah satu upaya membuat bangsa ini terbebas dari belenggu kebodohan.
            Untuk kemajuan dan peningkatan kesejahteraan suatu bangsa dibutuhkan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya baik di luar maupun di perut bumi, di daratatan dan dilautan. Namun sumber daya alam saja tidak cukup. Hutan di negara kita terkenal sangat luas dan kaya keragamannya namun dengan adanya  pembalakan hutan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab membuat hutan kita rusak dan tidak termanfaaatkan untuk kesejahteraaan bersama. Demikian juga dengan korupsi yang mennggerogoti berbagai instansi dan perusahaan pada akhirnya akan menghancurkan sendi kehidupan bangsa.
            Sebagaimana yang disampaikan Lickona, upaya untuk membuat sebuah bangsa maju da terhindar dari kehancuran ditentukan oleh kualitas moralnya. Di sat menghangatkan pencalonan presiden dan wakil presiden,wacana pembangunan moral seyogyanya menjadi bagian dari agenda  besar para calon pemimpin dimasa yang akan datang, agar indonesia menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.
            Begitu pula sebagaimana yang kita ketahui seirng dengan perjalanan waktu maka perkembangn  zaman juga sangat pesat kemajuannya, Namun disayangkan adalah dengan mendekatkan diri pada sang Khalik, Tetapi lebih menjauh darinya, bahkan melupakannya, sehngga carut marut diatas bumi ini sangat merajalela dimana-mana, nah kita sebagai generasi penerus hendaklah membekali diri dengan ilmu dan memperkokoh aqidah guna untuk membimbing diri kita pribadi dan saudara kita untuk menjadi masyarakat yang memiliki moralitas bangsa.

Ingatlah...
Kebersatuan adalah pangkal dari keberhasilan” (Bersatu kita teguh,Bercerai kita Runtuh), Selain itu juga pernah disampaikan oleh presiden negara kita Bpk.Susilo Bambang Yudhoyono “BERSAMA KITA BISA”
            Waktu adalah sebuah nikmat dan karunia yangdiberikan oleh Allah SWT kepada kita semua tanpa memilih siapa,semua insan memiliki waktu yang berharga.
“Waktu itu lebih berharga dari pada Emas”
            Namun disayangkan kebanyakan insan lupa akan kegunaanya sehingga mereka sering melupakan dan menyia-nyiakan keberadaannya.Padahal waktu berjalan dengan cepat tanpa menunggu siapa yangtertinggal.
Pernah disampaikan oleh”AHMAD ZAIROFI”
            “Momentum itu istimewa, seperti sebuah batu loncatan tempat kita menghentikan untuk melompat lalu mendapatkan daya dorong baru,kekuatan baru,dan menghasilkan karya baru,Tapi yang lebih penting adalah memaknai seluruh rentang hidup ini sebagai momentum.Deti demi detiknya,hari demi harinya.Orang yang hanya bergantungpada momentum-momentum seremonial langka akan sangat miskin kesempatan.Jika hanya saat ULTAH saat memperbaiki diri,jika hanya saat lulus sekolah/kuliah untuk meningkatkan kualitas diri alangkah miskinnya kesempatan kitauntuk menjadi baik”.
            Begitu pula dengan kitasebagai seorang remaja dan generasi penerus bangsa ini, siapkah kita menghadapi perkembangan aman, Dapatkah kita Merubah Jerami Menjadi Emas,ataukah mungkin kita malah Merubah Setumpuk Uang Menjadi Abu ? Semua tergantung pada diri kita.Seberapa besar kita memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada,seberapa kuat benteng yang kita gunakan untuk membentengi jiwa ini hingga tidak lupa akan daratan,serta seberapa besar perjuangan kita dalam melakukan perubahan menuju Masyarakat  Pembelajar Bermoralitas Bangsa.
           
Dan itu semua dapat dicapai melalui kata “MORALITAS” itu sendiri,yang mana dari kata tersebut mengandung arti :
M =Moral yang baik dan Menciptakan mana’ah.
Baik buruk suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh moralitasdari pada generasi muda bangsa tersebut. Jika generasi generasi muda suatu bangsa memiliki moral yangbaik maka bangsanyapun akan berkembang dan memiliki masa depan yangcerah.Namun sebaliknya jika generasi mudanya suda tidak bermoral lagi maka jangan harap bangsa tersebut dapat berkembang,yang ada ialah semakin bobrok keadaan yang diterima.. Pernah di sampaikan oleh Rosululloh bahwasannya :
            “Sebaik-baik generasi manusia adalah generasiku,kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”
Begitu pula dengan kita sebagai generasi muda,ditangan kitalah baik/buruk suatubangsa.Maka tumbuhkanlah daya tahan(imunitas)dari segala bentuk kemaksiatan,serta mampu berorientasi pada pencapaian,penguasaan teori,penguasaan moral,dan penguasaan amal.
O =Optimis 
            Sebagai generasi muda yang menentukan masa depan suatu bangsa sangatlah perlu kesungguhan yang disertai keyakinan/keoptimisan dalam diri.Sekali berkata maju maka haruslah maju dengan kesungguhan tanpa didampingi rasa ragu,yakinlah bahwa semua akan berhasil,dan jikalau nantinya itu tak sesuai yang kamu harapkan maka yakinlah pula tidak suatu usaha yang sia-sia.

“Barang siapa bersungguh-sungguh maka mendapatlah ia”
R = Rasionalis
Jangan sekedar mengkhayal saja dalam lamunan yang hanya berisi andaikan,andaikan,dan andaikan.Tapi berfikirlah yang rasional,jernih dan logis tentang segala sesuatunya,hingga sesuatu yang dapat dirasio/dinalar oleh akal dapat terealisasi dalam kenyataan,sehingga dapat memberikan pandangan yang islami dan keterangan yangnyata dengan bukti yang jelas.



A = Amalkan ajaran islam
            Kebanyakan masyarakat,khususnya pelajar dan pemuda mengetahui tentang kebaikan,mengetahui tentang ajaran-ajaran agama, tapi disayangkan mereka hanyalah faham akan teorinya semata,dan tak pernah mengamalkan.Bahkan mereka mengingkaritentangsegala hal yangbaik.Misalnya,seseorang mengetahui bahwa minum-minuman keras dan zina itu dilarang oleh agama ataupun negara,namun dari mereka acuh akan itu,bakan malah mereka lakukan.Oleh karena itu pengamalan sangatlah pentingdan diutamakan dalam pembentukan masyarakat pembelajar menuju moralitas bangsa.sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an
“Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru dengan kebaikan, mengajarkan perbuatan ma’ruf, dan mencegah pada perbuatan yangmungkar,dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imron :104)
            L = Luwes
Ikhlas,sabar,dan tidak kaku merupakan bekal kita dalam mengajak oranglain untuk mewujudkan masyarakat pembelajar menuju moralitas bangsa.Tidak ada keberhasilan yang instan,semuanya membutuhkan prosesdan waktu,sebab terkadang perbedaan yang semula memberikan keindahan berubah menjadikan kehancuran dan permusuhan,jika perbedaan yang ada menimbulkan keiri dengkian,serta karena ketiadaan rasasalingmenghargai antara satu dengan yang lain. Padahal Rosululloh bersabda :
“Wahai manusia,tebarkanlah perdamaian(salam) dan jalinlah tali silaturrahmi.”
Dari sabda Rosululloh kita dapat mengaplikasikan bahwa keluwesan terutama dalam menjalin tali silaturahmi begitu pentingnya,karena dengan tali silaturahmi yang kuat kita lebih mudah mengajak orang lain untuk senantiasa berbuat baik,lebih-lebih bagi masyarakat pembelajar.

I = Inovatif
Menjadi cerdasdan bijak dalam menghadapi problem-problem besar yang dapat melingkupi, remaja muslim harus bisa tampil beda,yakni beda dalam keyakinan dan cara pandang terhadap problem-problem besar yang mencakupinya dengan begitu seorang remaja/pelajar maupun pemuda menempatkan keshalihannya semata,melinkan juga kecerdasan dalam kebijakan menghadapi sulitnya persoalann.
T= Teladan
            Seringkali seseorang menasehati oranglain,namun merekasendiri tak mampu mengaplikasikan sesuatu yang ia katakan.Padahal Bukankah mengoreksi diri sendiri jauh lebih baik dari pada mengoreksi orang lain ?? “Tong Kosong Nyaring Bunyinya” mungkin seprti itu peribahasa tentang seseorang  yang pandai berkata-kata tapi tidak dapat mewujudkan dalam kesehariannya”. Oleh karenanya alangkah lebih bermanfaat jika usaha dalam mewujudkan moral yang baik itukita mulai dari diri kita sendiri,sehingga dapat memberikan contoh bagi orang lain dalam mengaplikasikan segala hal-halyangbaik  terutama dalam hal moral atau tingkah laku
            Apalagi sebagai seorang pelajar dan pemuda yang mungkin setiap tingkah laku dan tindakannya lebihdisorot oleh banyak masa.Maka jadilah masyarakat pembelajar yang teladan,dapat memberi  contoh,semangat,motivasi,dan inspirasi bagi orang lain.
            Dalam menumbuhkan keteladanan salah satunya dapat kita tumbuhkan melalui sarana suasana agamis disekolah.Paraahli pendidikan bersepakat bahwa kegiatan pendidikan bisa dikategorikan menjadi 3,yaitu :formal,nonformal,dan informal.Melihat hal ini maka sebenarnya setiap pihak khususnya para pelajardan pemuda yang berkecimpung dalam pendidikan merekadapat menjadi suri tauladan,contoh;kebijakan yangdilakukan lembaga pendidikan Al Azhar Mesir.Prof Dr Mohammad Sayyed Thantawi,GrandSyaikh Universitas Al Azhar Mesir,dalam sambutannyadiacara lokakarya pendidikan yangdiselenggarakan KBRI Cairo menyampaikan bahwaAl Azhar sebagai lembaga pendidikan yang komprehensif mulai dari jenjang raudhatul athfal(TK) hingga jenjang universitas sangat menekankan penguatan bais dasar keagamaan(islam).Salah satunya adalah hafalan Al-Qur’an sudah dibiasakan sejak jenjangTK mulai dari surat-surat pendek.Begitu seterusnya hingga jenjang-jenjangselanjutnya.Tidak mengherankan bila lulusan-lulisan Tsanawiyah Al Azhar sudah menggondol hafalan Al-Qur’an 30 juz.Diluar itu mereka juga tidak ketinggalan mata pelajaran yang lain.Sehingga mereka menjadi generasiteladan dan bermoral.
            Hal diatas hanyalah sebuah sampel yang menunjkkan bahwa sifat keteladanan dapat ditumbuhkan serta dapat menumbuhkan Masyarakat Pembelajar yang Bermoral.

A =Akal yang Sehat
            Manusia ialah makhluk yang palingsempurna dalam segi fisik,Sebab Allah telah memberikan akal padadiri manusia untuk berfikir dan menela’ah tentangsegala sesuatu,agar manusia dapat mengetahuidan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
            Namun teman,pergaulan,keluarga,dan lingkungan sangat mempengaruhi pola fikirseseorang.Hingga tak jarang akal mereka terpengaruh dengan hal-hal buruk dan tidak masuk akal,bahkan menjadikan akal mereka layaknya tak berfungsi.Misalnya di Indonesiasendiri banyak orang-orang alim,ahli ibadah seperti amrozidan rekan-rekannya yang melakukan bom bunuh diri,mereka beranggapan bahwa semua itu adalah perintah agma,dan merupakan jalan berjihadyang Allah ridhai.Padahal itusemua dapat menghancurkan ketenangan,dan perdamian umat.Sedangkan Allah sendiri berfirman
“Wahai orangyang beriman berdiritegaklah untuk tuhan sebagai saksi-saksi-saksi dengan menegakkan keadilan,dan janganlah kebencianmu terhadap sekelompok manusia menyimpangkan kamu dari perbuatan adil. Tegakkanlah keadilan, itualah yang paling mendekati taqwa. Sesungguhnya Tuhan benar benar mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan.” (Q.S Al – Maidah : 8)
            Karenanya tidak hanya dengan kemampuan fisik dan mental saja dalam mewujudkan masyarakat pembelajaran, namun akal sehat juga sangat diperlukan agar kita dapat berfikir logis, jernih, rasional, dan tidak menelan segala sesuatu secara mentah mentah.

S = Semangat
            Semangat adalah hal yang utama harus ditumbuhkan dalam jiwa dan diri seseorang khususnya pada jiwa seorang remaja.Sebab jika semangat sudah tumbuh pada jiwa seseorang maka usaha yang maksimalpun akan tertanam dalam kesempatan yang ada.Dengan semangat dan usaha yang keras pula seseorang dapat meraih sesuatu yang ia inginkan ,begitu pula dengan pembentukan moralitas bangsa  jika semangat  sudah tertanam pd masyarakat maka kemungkinan terwujudnya masyarakat pembelajarpun semakin besar untuk tercapai.

           Mari kita kita renungkan wahai para pelajar dan pemuda terutama Kader Pelajar Islam Indonesia (PII) yang pada saat ini merupakan amanah yang paling utama yaitu melaksanakan kewajiban mengabdi kepada umat dan bangsa,
Dari kitalah terlebih dahululah kita melakukan perubahan baik dari segi tingkah laku maupun yang lainnya,agar pelajar di Era Globalisasi ini masih taat kepada sang Khalik yang telah menciptakannya,dan tetap menjalankan amanah yang istiqomah dalam perintahnya.
            Mari kita meningkatkan kualitas diri,yakni bagaimana cara kita untuk mencitrakan diri sebagai seorang pelajar maupun pemuda yang muslim yang kaffah,kincinya sederhana;berupaya terus mengamalkan ajaran-ajaran islam sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW dan itu sudah cukup menjadi acuan dalam bersikap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar